Monday, October 19, 2015

4 Pantai Tujuan Wisata di Sumatra Utara yang Mendunia

Berikut adalah destinasi wisata pantai yang menarik dan wajib dikunjungi di Sumatra Utara.

  • Pantai Lagundri dan Pantai Sorake
Pantai Lagundri dan Pantai Sorake adalah pantai yang masih berada dalam 1 garis pantai di Kecamatan Teluk Dalam, Nias Selatan, Sumatera Utara. Kedua pantai ini sangatlah terkenal di dunia karena ombaknya yang besar dan sangat disukai para peselancar dari berbagai belahan dunia. Bila anda tidak dapat berselancar, tidak perlu kuatir karena di kedua pantai ini banyak terdapat pelatih selancar. Selain itu ada puluhan penginapan di sepanjang pantai sehingga anda tidak perlu kuatir kesulitan mendapat penginapan.

Keduanya terkenal karena ombaknya yang menantang bagi para peselancar dan disebut-sebut sebagai tempat berselancar terbaik kedua setelah Hawaii. Tinggi ombak di kedua pantai ini bisa mencapai tujuh hingga sepuluh meter dengan lima tingkatan. Daya dorong ombaknya sendiri bisa mencapai 200 meter. Saat bulan purnama tiba, ombak di kedua pantai ini akan menjadi lebih menantang. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang berhadapan dengan Samudera Indonesia dan merupakan tempat bertemunya teluk menjadikan ombaknya mengalir besar.


Bagi wisatawan yang ingin belajar berselancar di pantai ini juga bisa lho. Warga lokal di daerah pantai tersebut akan menjadi pemandu dan pelatih untuk belajar berselancar. Waktu terbaik untuk belajar berselancar adalah pagi hari karena ombaknya belum terlalu tinggi.

Beberapa lomba selancar sering diadakan di kedua pantai ini baik lomba selancar nasional maupun internasional. Biasanya lomba digelar antara bulan Juni atau Juli setiap tahunnya dimana pada bulan tersebut ombak di pantai ini sedang besar-besarnya. Nias Open merupakan salah satu kejuaraan selancar yang rutin diselenggarakan di kedua pantai tersebut. Pesertanya didominasi oleh peselancar mancanegara.

Jika ingin bermalam di kawasan Pantai Lagundri dan Pantai Sorake, kita bisa memilih diantara 60 homestay yang berjejer di bibir pantai tersebut. Tarif sewa kamarnya mulai dari Rp. 75.000 per malam. Salah satu hotel berbintang yang terkenal di kawasan ini adalah Sorake Beach Hotel.

Kita bisa memilih penerbangan yang menuju ke Bandara Binaka, Gunung Sitoli. Dari bandara kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Pantai Lagundri dan Pantai Sorake yang berada di Teluk Dalam menggunakan kendaraan umum yang berupa minibus. Tarif untuk naik minibus sekitar Rp. 40.000 per orang.

Jika menggunakan kendaraan pribadi atau sewa maka kita bisa memilih jalur untuk menuju kedua pantai tersebut:

Jalur pertama: melewati Lahewa kemudian membelah Pulau Nias sampai ke Teluk Dalam.

Jalur kedua: menyusuri pantai dengan melewati kota-kota kecamatan, yaitu Gido, Bawolato, Idanogawo dan Lahusa.

  • Barus
Kota Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia. Ibukota kecamatan ini berada di kelurahan Padang Masiang. Kota Barus sebagai kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M, dan disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur. Kecamatan Barus berada di Pantai Barat Sumatera dengan ketinggian antara 0 – 3 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Barus terletak pada Koordinat 02° 02’05” - 02° 09’29” Lintang Utara, 98° 17’18” - 98° 23’28” Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Andam Dewi, sebelah Selatan dengan Kecamatan Sosorgadong, sebelah Timur dengan Kecamatan Barus Utara, sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.

Wisata Pantai Barat Sumatra Utara yang berikutnya adalah Barus. Dulu Barus merupakan tempat singgah para pedagang dunia yang berlayar di Samudera Hindia. Para pedagang ini kebanyakan dari India, Italia, Cina, Arab, Mesir, dan Persia. Tujuan mereka untuk mengambil hasil alam berupa pohon Barus, komoditas utama daerah ini. Nantinya, serbuk-serbuk yang ada di tengah batang pohon itulah yang akan dijadikan kapur barus.

Selain mencari kapur barus, dahulu para pedagang itu sering singgah juga untuk mencari rempah-rempah. Kapur barus dan rempah daerah sini terkenal nomor wahid. Harganya seimbang dengan emas yang dibawa dari sana.

Di bawah, ada pula komplek makam mahligai tak jauh dari kaki bukit ini. Sesuai dengan namanya, mahligai berarti istana kecil. Arsitektur komplek pemakaman ini sangat kental dengan nuanasa Arab. Di komplek ini terdapat kurang lebih dua ratusan buah makam baik menggunakan batu nisan besar dan kecil. Setiap batu nisa terlihat ukiran kaligrafi dengan ornamen Arab kuno dan bahasa Parsi yang tak dimengerti. Di komplek makam ini dulu dikabarkan ada sebuah istana kecil para saudagar itu.
Di atas bukit di kawasan Barus ini terdapat makam Syekh Mahmud. Konon, digadang sebagai pemimpin para saudagar yang berkunjung ke daerah ini. Mereka kemudian disebut para Aulia 44. Ini adalah sebutan untuk pembawa agama Islam yang datang dari Arab dan Persia. 44 disebut sebagai jumlah dari para saudagar ini.

Makam para saudagar ini membuktikan bahwa dulunya Barus merupakan tujuan utama para saudagar dunia. Hingga akhirnya tempat ini menjadi masuknya Islam pertama kali ke tanah Sumatra Utara lewat para saudagar tersebut. Kota inilah yang membawa nama Nusantara hingga ke penjuru dunia dari abad ke VII hingga saat ini.

  • Pulau Mursala

Pulau Mursala adalah pulau terbesar di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah dan terletak di sebelah Barat Daya Kota Sibolga dan berjarak 22,5 km dari Pandan, Tapanuli Tengah. Pulau Mursala mempunyai luas ± 8.000 Ha dan dapat ditempuh melalui Pandan atau Sibolga menggunakan kapal cepat dalam waktu sekitar 1 jam atau menggunakan kapal biasa selama 3 jam. Pulau Mursala tidak terlalu terkenal di kalangan dalam negri tetapi pulau ini telah mendunia.

Sebenarnya Mursala adalah nama sebuah pulau di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pulau terbesar di Tapanuli Tengah ini seluas 8000 hektar. Pulau ini dihuni puluhan kepala keluarga. Yang paling mencolok dari pulau ini adalah adanya air terjun yang airnya langsung jatuh ke permukaan air laut Samudera Hindia. Airnya berasal dari aliran sungai terpendek di dunia yaitu sepanjang 700 meter.

Nama mursala tak lahir begitu saja. Pada abad ke-VII, banyak bangsa Arab yang datang ke Tapanuli Tengah untuk melakukan pertukaran komoditi. Pulau inilah yang kemudian menjadi tempat ibadah mereka. Mursala berarti mushalla atau tempat ibadah. Adapula yang menggabungkan kata mur dan shalat. Intinya adalah tempat ibadah.

Tak melulu tentang air terjun dan sejarahnya, kawasan Pulau Mursala ini juga kaya dengan ragam terumbu karang. Di kawasan ini juga terdapat pusat konservasi terumbu karang di Sumatra Utara.

Di balik pesonanya, ternyata air terjun Pulau Mursala ini juga memiliki legenda tersendiri yang berkembang di masyarakat sekitar. Konon, air terjun ini merupakan tempat bermain seorang putri cantik bernama Putri Runduk. Putri Runduk memiliki kolam tempat mandi di atas air terjun dari mana air terjun ini mengalir. Menurut cerita, Putri Runduk adalah permaisuri Raja Jayadana yang memerintah Kota Kerajaan Barus Raya, sebuah kerajaan Islam di wilayah Sumatera Utara pada abad ke-7 M. Putri Runduk memiliki paras yang cantik rupawan sehingga termahsyur sampai ke luar kerajaan. Disebutkan bahwa Raja Sanjaya dari Mataram dan Raja Janggi dari Sudan, Afrika pun tertarik dengan kecantikan sang Putri. Putri Runduk bisa sampai di Pulau Mursala karena melarikan diri dari negerinya yang sudah porak poranda akibat diserang dan dikuasai oleh Raja Sanjaya, yang kemudian direbut oleh Raja Janggi. Suaminya terbunuh dan Putri Runduk tidak mau dinikahi oleh Raja Sanjaya, di antaranya karena perbedaan agama (Putri Runduk beragama Islam sedang Raja Sanjaya beragama Hindu). Dikisahkan pula bahwa sang Putri menceburkan diri ke laut saat dikejar Raja Janggi, lalu hilang.

Sisi lain yang lebih menarik adalah pulau mursala ini sudah dua kali dijadikan lokasi syuting pembuatan film baik film nasional maupun Hollywood. Dulu pulau ini pernah menjadi lokasi shooting dalam film King Kong yang diluncurkan pada tahun 2005. Film bergenre science fiction ini adalah satu film yang pernah populer di dunia. Pernah pula dijadikan lokasi syuting Film Indonesia yang berjudul Mursala. Wajar saja kalau akhirnya pulau ini terkenal hingga ke mancanegara dan menjadi tujuan wisatawan para turis luar negeri.

  • Sibolga

Salah satu kota terkecil di Indonesia ini tepat berada di cekungan Teluk Tapian Nauli. Ini membuat Sibolga menjadi pintu gerbang jalur laut di pantai barat Sumatera. Sejak abad ke X Sibolga sudah menjadi pelabuhan internasional tempat berlabuhnya kapal-kapal dari seluruh penjuru dunia. Di sinilah banyak dilakukan transaksi perdagangan internasional.

Kota Sibolga adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota ini terletak di pantai barat pulau Sumatera, membujur sepanjang pantai dari utara ke selatan dan berada pada kawasan teluk yang bernama Teluk Tapian Nauli, sekitar ± 350 km dari kota Medan. Kota ini hanya memiliki luas ±10,77 km² dan berpenduduk sekitar 84.481 jiwa.

Iklim kota Sibolga termasuk cukup panas dengan suhu maksimum mencapai 32° C dan minimum 21.6° C. Sementara curah hujan di Sibolga cenderung tidak teratur di sepanjang tahunnya. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan November dengan jumlah 798 mm, sedang hujan terbanyak terjadi pada Desember yakni 26 hari. Pulau-pulau yang termasuk dalam kawasan kota Sibolga adalah Pulau Poncan Gadang, Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik dan Pulau Panjang.

Kini, Sibolga tak hanya terkenal lewat pelabuhan internasional yang menjadi pintu gerbang pantai barat sumatera. Kota ini juga menyuguhkan wisata alam dan bahari yang menjanjikan. Pulau Poncan salah satunya. Pulau yang tak jauh dari kota Sibolga ini menawarkan pesona alam yang cukup memanjakan. Penginapan yang menyatu dengan alam dan wisata pantai yang masih alami.

No comments:

Post a Comment